Oleh : Alan Alamsyah
“Nothing is
impossible” Baca Bryan di sebuah majalah yang tergeletak di meja ruang tamu
rumah. Judulnya begitu memikat. Ia mengambilnya. Begitu penasaran dan sangat
tertarik tuk di teliti. Ia membaca artikel itu di sofa yang tak jauh dari
tempat ia berdiri tadi. ”Artikel apa ini!” katanya sombong setelah selesai
membaca, berteriak sendiri di ruangan itu sambil mencampakkannya di atas meja.
Lalu pergi meninggalkan sofa menuju kamar.
‘Si playboy
cap kampak’, begitu gelar yang diberi mantan pacarnya pada Bryan. Dengan mata
sayunya ia berjalan. Menebarkan pesona kejantanannya kepada setiap wanita yang
berada disekitarnya. Tak ada rasa canggung ia berjalan bak pangeran kerajaan
istana. Setiap mata cewek berada di titik fokus yang sama. Mereka menatapinya
tanpa berkedip. Sungguh mengherankan. Bryan tampak begitu percaya diri dan
tampak yakin bahwa dirinya pria paling tampan di sekolah. Tak dapat diragukan
lagi kenyataannya. Sifatnya yang pendiam dan tampak begitu misterius, membuat
segala lawan jenisnya ingin mengetahui sifat-sifat yang tampak terselubung itu.
Membuat mereka seperti mati rasa dan begitu terpesona.
Apa lagi yang
kurang? Ia pandai basket, pesonanya tak dapat ditandingi. Melihat ekspresinya
saja membuat kata kagum keluar dari setiap orang tanpa terkecuali. Belum lagi
prestasi akademisnya yang melebihi rata-rata. Anak yang cerdas dan menyukai
tantangan. Hanya keras kepalanya lah yang menjadi sifat buruk, meski tak
diketahui oleh pengemar di sekolahnya. Ia juga terkenal dengan permainannya
yang jitu terhadap cewek-cewek disekolahnya. Banyak wanita yang tersakiti oleh
ulah tebar-tebar pesonannya dan perasaan diperhatikan tetapi tanpa emosi yang
dalam.
“Bryan..Kamu
tega banget!! Mulai saat ini kita putus.” Kata pacarnya dengan nada marah. Ia
sama sekali tak menangapinya. Ia hanya melanjutkan kegiatan bodohnya dengan
merayu gadis lain di tempat biasa mereka ngumpul di dekat sekolah bersama teman
laki-lakinya. Ia tersenyum licik menanggapi itu semua.
***
“OMG!” Kata
Mira yang tak sengaja menabrak Bryan yang sedang menuju ke dalam kelas.
“Kamu ni apa-apaan sih?? Pake mata donk!”
Katanya dengan nada tinggi sambil melotot tajam
“Mata..mata, loh tu yang gak pake mata. Loh
gak lihat gue lagi jalan!” Balas Mira lagi menandingi teriakan Bryan
“Dasar GENDUT!!!” Katanya kepada Mira lalu
meninggalkannya dengan cepat. Mendengar hinaan itu, dengan kasarnya ia berkata,
“Mulut tolong diajar !” Mira berbalik meneriakkannya melihat Bryan
meninggalkannya. Mira tampak kesal mendengar dirinya direndahkan dan terus
menerus mengingat kejadian itu selama pelajaran berlangsung.
Di saat jam
istirahat, Bryan menceritakan kejadian itu kepada tiga sahabat sejatinya.
“Apa, Mira si gendut?” Respon dari mereka
serentak. Terasa sangat lucu.
“Mira yang kelas IPA-3?” Kata Gery
menandaskan.
“Iya!!” Kata Bryan marah, merasa lelah
menjelaskan berulang-ulang.
Mendengar keyakinan itu, membuat mereka
terbahak-bahak menertawakannya. Bryan hanya diam, menganggapnya hal sepele.
“Gimana kalau kita taruhan, siapa yang bisa
menjadikannya pacar, dia pemenangnya.” Kata Gery memberikan ide buruk
“Kamu da gila? Gak..” Kata Raffy tak setuju
“Itu susah loh Gery, itu masalah hati!” Kata
Angga memberi pertimbangan
“Ya, bukan untuk kita. Untuk Bryan donk!” Kata
Gery
“Enak aja! Gak..Aku gak mau!”
“Katanya semua cewek bisa loh dapatkan?” Kata
Gery
“Cewek cantik..Bukan cewek gendut kayak dia!
Da gendut, jelek lagi!” Kata Bryan sepele
“Da, lupakan ide gila lo itu!” Katanya
melanjutkan.
Seorang gadis,
yang adalah kekasihnya yang baru, dari kelas sebelah
menghampiri Bryan dan mengajaknya ke
perpustakaan. Meninggalkan mereka bertiga di kantin.
“Kalau you Bro?” Kata Gery menunjuk Raffy
“Gak aku gak mau!” Tanggapnya
“Aku juga!” Sambut Angga lagi
“Loe aja!” Kata Raffy
Angga terpikir
sesuatu. Lalu membisikannya kepada mereka berdua. Rencana aneh yang telah
mereka pikirkan matang-matang. Dan bersepakat tuk menjalankannya esok hari. Di
saat pulang sekolah, mereka serentak tuk mengerjai Bryan bersamaan dengan Mira.
Tak mengerti mengapa saat itu begitu tepat. Gery memerhatikan Mira yang menuju
kamar mandi cewek. Tanpa diketahui oleh Bryan, Gery memberinya tantangan. Ia
menariknya dari kantin sekolah dan memerlihatkan di hadapannya kamar mandi
cewek, lalu berkata, “Aku kasih kamu tantangan. Jika kamu berani memasuki kamar
mandi cewek saat ini, aku akan bayarin bakso kamu!” Kata Gery.
Kemudian Angga
dan Raffy berjalan mengarah kepada mereka.
“Ok..Tapi jangan bohong ya!” Katanya
“Iya..Cepat-cepat!” Kata Gery sambil
mendorongnya
“Mumpung gak ada orang!” Kata Gery lagi.
Tanpa ragu-ragu ia memasuki ruangan. Langsung
dikunci Gery dan Angga dari luar kamar mandi. Suara teriakan keras kemudian
terdengar. Mereka hanya tertawa setertawa-tertawanya hingga membuat perut
mereka sakit tak tertahankan.
“Kamu
ngapain?” Kata Mira setelah teriak dan sadar bahwa itu Bryan. Bryan bingung tuk
menjawab pertanyaan itu, ia hanya menunjuk pintu dibelakangnya dan tak bisa
mengucapkan apapun. Hanya rasa malu yang dapat dirasakan.
Melihat Bryan
seperti itu, Mira begitu marah dan berpikir negatif. Ia langsung memukul Bryan
dengan tas sekolahnya berkali-kali. ”Kamu sudah gila ya?? Keluar!” Katanya.
Mendengar itu Bryan langsung berbalik dan mendorong pintu sambil berkata,
“Sory..sory” Dicobanya tuk mendobrak pintu\par
“Pintunya gak
bisa dibuka!” Kata Bryan panik, sambil mencoba mendorongnya berkali-kali. Ia
kemudian berteriak memanggil nama-nama ketiga temannya. Tampak wajahnya begitu
marah. Mendengar itu, Mira langsung mendekati pintu dan mencoba tuk
membuktikannya. Ia pun berteriak keras membuat kebisingan. Tetapi tak ada
seorangpun yang mendengarnya.
“Mati kita!” Katanya melanjutkan
“Bagaimana ni!!” Katanya lagi
Bryan hanya diam.
“Siapa yang berbuat seperti ini? Pasti kamu
sengaja ngelakuinnya!”
Kata Mira menuduh
“Kok aku? Ngak, ni semua gara-gara Gery. Pasti
dia sengaja!” Katanya marah
“Aduh gimana ni? Gak da yang dengar.” Kata
Mira putus asa lalu
mendudukkan dirinya di lantai. Setengah jam
berlalu. Yang ada hanyalah suara mereka yang saling menyalahkan. Kemarahan demi
kemarahan terbangun semakin parah. Mereka kualahan, merasa lelah dan hanya
mengungkapkan perasaan mereka saat ini.
Sudah terlalu
lama mereka berada di situ. Rasa kasihan Gery akhirnya menyudahi kerjaan mereka
itu yang keterlaluan. Pintu kamar mandi terbuka lebar, membuat mereka berdiri
dengan gembiranya. Lalu menyusul dengan nada tertawa yang membuat mereka kesal.
Melihat suara itu, yang berasal dari Angga, Gery, dan Raffi. Mereka tak
henti-hentinya tertawa menertawakan mereka berdua.
“Gak lucu
Ger!” Kata Bryan yang marah lalu meninggalkan mereka tak ingin memulai pertengkaran.
Begitu halnya dengan Mira. Wajah mereka tampak kecewa dengan perlakuan yang
keterlaluan ini. ”Ini sudah kelewat batas” Kata Mira melewati mereka.
Kejadian itu
membuat Bryan tak terlalu menaruh simpati akan mereka. Ia selalu mengindar dari
dekatan mereka. Sepertinya ia masih belum menerima lelucon mereka yang
keterlaluan semalam. ”Sudahlah Bryan, kami minta maaf atas kejadian semalam.
Semalam kami hanya bercanda!” Kata Angga yang mengikuti dirinya di belakang
“Iya kamu minta maaf!” Sambung Gery
“Bercanda?” Sentaknya
“Apanya bercanda!” Kata Bryan melanjutkan. Ia
belum dapat memakluminya.
“Jangan ganggu aku!” Katanya sambil
melanjutkan langkah kakinya
meninggalkan mereka.
***
“Ada apa ini?”
Katanya. Seharian ini, ia terus memikirkan kejadian semalam. Ia kadang-kadang
tersenyum sendiri. Kadang-kadang merasa bangga atau bahkan berganti dengan
keinginan dalam. ”Apa yang kupikirkan?” Kata Bryan yang sadar bahwa ia
memikirkan Mira selama pelajaran. Pikirannya melayang-layang tak memerhatikan
sedikitpun penjelasan penting itu.
Ia keluar dari
dalam kelas sambil tersenyum. Tak tahu apa yang merasukinya. Ia berjalan pulang
ke arah pintu sekolah. ”Maafkan kami Bryan!” Kata mereka lagi mengejarnya. Ia
berbalik dan tak menanggapi.
“Bryan, kami minta maaf!” Kata Gery
“Iya Bryan!”
“Ok, aku akan maafin kalian jika kalian mau
bayarin aku bakso!” Kata Bryan. Kata-kata yang tak disangka mereka. Merubah
raut wajah mereka dengan senyuman. Langsung mereka merangkul satu sama lain
berjalan ke arah tempat mereka biasa kumpul, di depan sekolah. ”Akhirnya kamu
mau maafin kami!” Kata Angga ”Pasti donk, kalian sudah aku anggap saudara
sepertinya aku gak bisa marah terlalu lama dengan kalian!” Kata Bryan, yang tak
menyatakan jawaban lainya yang sangat memengaruhi keputusan tuk memaafkan
mereka.
Esoknya, ia
berjalan kearah perpustakaan bersama dengan anggota geng-nya. Dengan sikap
seperti biasa layaknya bos besar. Mereka akan mencari bahan tuk presentasi
minggu depan. Sesampainya disana, Bryan dibiarkan mencari buku sendiri.
Sedangkan yang lainnya menunggu di tempat duduk tuk membaca yang tak jauh dari
topik bahan mereka. Ia berjalan perlahan-lahan. Mencari bahan yang cocok dan
tak ingin kalah dengan kelompok lain.
Satu demi satu
rak ia jalani. Mencari dengan sangat teliti hingga tak memerhatikan lagi
orang-orang disekelilingnya. Matanya tertuju dengan sebuah buku berwarna hijau
tebal. Tapi tak cukup besar. Hanya seukuran buku biasa, hanya tebalnya melebihi
biasa. Lalu diambilnya tuk mengetahui isinya. Ia langsung terkejut melihat
tangan seseorang terpegangnya dengan tidak sengaja. Begitu tepat. Tanpa ingin
mengetahui siapa dia, ia terlebih dahulu menarik tangannya.
“Mira!” Kata
Bryan melihat orang yang membuatnya trauma tuk berdekatan.
“Sory” kata Mira lembut.
“Lembutnya!” Katanya secara tiba-tiba, tetapi
pelan
“Apa?”
“Ngak!” Kata Bryan. Wajahnya memerah tak dapat
menangapi. Jantungnya
berdebar kencang. Ia tak dapat
mengendalikannya lagi. Ia takut jika Mira mengetahui itu. Tanpa berkata apapun
ia kembali kepada Gery dan teman-teman lain. Ia mendudukan diri bersama dengan
mereka, seperti habis di kejar setan.
“Kamu kenapa?” Kata Raffi
“Ngak papa!” Langsung dipegangnya tangan
mereka, menariknya keluar perpustakaan.
“Besok aja kita lanjutkan. Bahannya gak ada!”
Kata Bryan memberi alasan. Lalu meninggalkan mereka dan pergi ke dalam kelas.
Mereka
tampak binggung menghadapinya.
“Ada apa
denganku? Kenapa aku begitu gugup di dekatnya? ” Kata Bryan di dalam kamar. Ia
tak yakin dengan kejadian tadi siang. Baru kali ini ia merasa yang namanya
gugup setengah mati di dekat cewek. ”Apa yang ada di kepalaku? Gak mungkin aku
suka padanya, gak mungkin!” Katanya memberontak terhadap perasaan yang masih di
identifikasi. Ia membuka matanya dan berkata, “Aduh..Kenapa aku masih kepikiran?”
Sambil menutup kedua telinganya dengan bantal.
“Kenapa harus kepikiran dia?”
Di sekolah, mereka berempat berjalan di
lapangan sekolah. Tanpa sengaja, Mira lewat berhadapan dengan mereka. Dengan
ramahnya Raffi mencoba menyapanya,
“Hai!”
Dengan mata tajamnya ia melotot ke arah mereka
semua memperlihatkan kebencian.
“Kok gitu?” Kata Gery menggoda dengan nada
mengejek.
“Diam loh!” Balas Mira lalu tak menghiraukan
mereka lagi
“Galak amat!” Tak ada sambutan lagi terdengar
oleh Mira. Gery melihat raut wajah Bryan. Ia tercengang dan berpikir sejenak.
“Kamu kok diam aja?” Kata Gery. Mendengar itu,
Raffi dan Angga berbalik memerhatikan Bryan kembali.
“Iya” Kata Raffi. Ia tampak menyadarinya,
“Kamu biasanya yang paling heboh kalau soal ejek mengejek!” Kata Angga sambil
merangkul bahunya,
“Mungkin kamu suka ya sama dia?” Tebaknya
asal-asalan. Mendengar itu
raut wajahnya berubah. Tetapi mereka tertawa
keras mendengar canda
Angga. Mereka tak menganggap itu serius.
“Mana mungkin,
si Playboy cap Kampak ni suka sama Gajah besar kayak gitu!” Ucap Gery hingga
menyambung tawa mereka semua.
“Kalian ada-ada saja!” Kata Bryan mencoba tak
khawatir. Dan mengajak mereka ke dalam kelas, mengalihkan khayalan tinggi
mereka.
Sepulang sekolah. Wajahnya tampak bahagia, tetapi
terkadang seperti orang sekarat karena suatu penyakit. Ia berjalan ke dalam
kamar merebahkan dirinya yang lelah.
“Aku
memikirkannya lagi!” Kata Bryan. Ia seperti menjilat ludahnya sendiri. Terpikir
ia akan buku yang ia baca empat hari lalu. Di
carinya buku itu di ruang tamu. ”Buku ini
seperti benda keramat!” Kata Bryan mencarinya dengan cemas.
“Bi..Bibi..”
Teriak memanggil bibi ”Bi buku kemarin tu mana?” Kata Bryan setelah bibi
berlari memenuhi
panggilannya. ”Di gudang den!” Jawabnya.
Segera Ia berlari, bergegas tuk mencarinya di dalam gudang. Diambilnya kunci
gudang itu. Memasuki ruangan perlahan-lahan.
“Mana buku
itu?” Katanya ”Itu dia..” Terlihatnya cukup jauh, dengan debu yang banyak dan
tampak kusut. Beberapa bagian terlihat gigitan tikus yang berkeliaran.
Diambilnya, mencoba tuk membersihkan dengan perlahan, takut merusaknya.
Ia kembali ke
ruang tamu. Ia duduk di sofa, saat seperti pertama kali ia menemukan dan
membacanya.
‘Sejak kapan Anda mencintai? Apa prinsip Anda
mencintai? Apakah memang benar Anda mencintainya?’ Bacanya ulang dengan huruf
besar dan tebal. Kalimat pertama membuatnya binggung meski telah kedua kali
membacanya.
‘Tak ada yang
dapat menghakimimu. Sering membuat janji?
Janji, hutang. Pengorbananmu itu adalah utang,
harus di bayar.
Kertas perjanjiannya yang di meteraikan adalah
ucapan mulutmu.
Katakan perkataan buruk dan itu akan terjadi
padamu.
Doakan yang baik membuat momen itu kan
tercipta.
‘ Bacanya lagi
semakin binggung
“Ini seperti majalah mistis” Katanya
‘Nothing is
imposible,
ketika Anda melakukan dan mempermainkan
perasaan orang lain,
jangan heran Anda akan merasakannya. Nikmati
saat-saat bahagia itu.
‘ Kata
terakhir yang ia baca. Terlihatnya tulisan kecil, seperti catatan kaki di sudut
bawah artikel.
‘Jaga bicaramu setelah membaca artikel ini’
Baca jamil, ia terdiam tak berkata. Ia berpikir keras dan merasa ini tanpa
logika, menuntutnya menggunakan perasaannya.
Ia mencoba
menyelami dan mengingat setiap perbuatannya. Tapi, tetap saja kata yang ia
keluarkan hanya, ” Ini gak mungkin!!” sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.
“Aku termakan
omonganku sendiri!” Katanya Sadar80% cerita ini nyata masbro/mba bro...