Jumat, 21 Desember 2012

Buku kutukan




                                                     Oleh : Alan Alamsyah

“Nothing is impossible” Baca Bryan di sebuah majalah yang tergeletak di meja ruang tamu rumah. Judulnya begitu memikat. Ia mengambilnya. Begitu penasaran dan sangat tertarik tuk di teliti. Ia membaca artikel itu di sofa yang tak jauh dari tempat ia berdiri tadi. ”Artikel apa ini!” katanya sombong setelah selesai membaca, berteriak sendiri di ruangan itu sambil mencampakkannya di atas meja. Lalu pergi meninggalkan sofa menuju kamar.

‘Si playboy cap kampak’, begitu gelar yang diberi mantan pacarnya pada Bryan. Dengan mata sayunya ia berjalan. Menebarkan pesona kejantanannya kepada setiap wanita yang berada disekitarnya. Tak ada rasa canggung ia berjalan bak pangeran kerajaan istana. Setiap mata cewek berada di titik fokus yang sama. Mereka menatapinya tanpa berkedip. Sungguh mengherankan. Bryan tampak begitu percaya diri dan tampak yakin bahwa dirinya pria paling tampan di sekolah. Tak dapat diragukan lagi kenyataannya. Sifatnya yang pendiam dan tampak begitu misterius, membuat segala lawan jenisnya ingin mengetahui sifat-sifat yang tampak terselubung itu. Membuat mereka seperti mati rasa dan begitu terpesona.

Apa lagi yang kurang? Ia pandai basket, pesonanya tak dapat ditandingi. Melihat ekspresinya saja membuat kata kagum keluar dari setiap orang tanpa terkecuali. Belum lagi prestasi akademisnya yang melebihi rata-rata. Anak yang cerdas dan menyukai tantangan. Hanya keras kepalanya lah yang menjadi sifat buruk, meski tak diketahui oleh pengemar di sekolahnya. Ia juga terkenal dengan permainannya yang jitu terhadap cewek-cewek disekolahnya. Banyak wanita yang tersakiti oleh ulah tebar-tebar pesonannya dan perasaan diperhatikan tetapi tanpa emosi yang dalam.

“Bryan..Kamu tega banget!! Mulai saat ini kita putus.” Kata pacarnya dengan nada marah. Ia sama sekali tak menangapinya. Ia hanya melanjutkan kegiatan bodohnya dengan merayu gadis lain di tempat biasa mereka ngumpul di dekat sekolah bersama teman laki-lakinya. Ia tersenyum licik menanggapi itu semua.

***

“OMG!” Kata Mira yang tak sengaja menabrak Bryan yang sedang menuju ke dalam kelas.
 “Kamu ni apa-apaan sih?? Pake mata donk!” Katanya dengan nada tinggi sambil melotot tajam
 “Mata..mata, loh tu yang gak pake mata. Loh gak lihat gue lagi jalan!” Balas Mira lagi menandingi teriakan Bryan
 “Dasar GENDUT!!!” Katanya kepada Mira lalu meninggalkannya dengan cepat. Mendengar hinaan itu, dengan kasarnya ia berkata, “Mulut tolong diajar !” Mira berbalik meneriakkannya melihat Bryan meninggalkannya. Mira tampak kesal mendengar dirinya direndahkan dan terus menerus mengingat kejadian itu selama pelajaran berlangsung.

Di saat jam istirahat, Bryan menceritakan kejadian itu kepada tiga sahabat sejatinya.
 “Apa, Mira si gendut?” Respon dari mereka serentak. Terasa sangat lucu.
 “Mira yang kelas IPA-3?” Kata Gery menandaskan.
 “Iya!!” Kata Bryan marah, merasa lelah menjelaskan berulang-ulang.
 Mendengar keyakinan itu, membuat mereka terbahak-bahak menertawakannya. Bryan hanya diam, menganggapnya hal sepele.
 “Gimana kalau kita taruhan, siapa yang bisa menjadikannya pacar, dia pemenangnya.” Kata Gery memberikan ide buruk
 “Kamu da gila? Gak..” Kata Raffy tak setuju
 “Itu susah loh Gery, itu masalah hati!” Kata Angga memberi pertimbangan
 “Ya, bukan untuk kita. Untuk Bryan donk!” Kata Gery
 “Enak aja! Gak..Aku gak mau!”
 “Katanya semua cewek bisa loh dapatkan?” Kata Gery
 “Cewek cantik..Bukan cewek gendut kayak dia! Da gendut, jelek lagi!” Kata Bryan sepele
 “Da, lupakan ide gila lo itu!” Katanya melanjutkan.

Seorang gadis, yang adalah kekasihnya yang baru, dari kelas sebelah
 menghampiri Bryan dan mengajaknya ke perpustakaan. Meninggalkan mereka bertiga di kantin.
 “Kalau you Bro?” Kata Gery menunjuk Raffy
 “Gak aku gak mau!” Tanggapnya
 “Aku juga!” Sambut Angga lagi
 “Loe aja!” Kata Raffy

Angga terpikir sesuatu. Lalu membisikannya kepada mereka berdua. Rencana aneh yang telah mereka pikirkan matang-matang. Dan bersepakat tuk menjalankannya esok hari. Di saat pulang sekolah, mereka serentak tuk mengerjai Bryan bersamaan dengan Mira. Tak mengerti mengapa saat itu begitu tepat. Gery memerhatikan Mira yang menuju kamar mandi cewek. Tanpa diketahui oleh Bryan, Gery memberinya tantangan. Ia menariknya dari kantin sekolah dan memerlihatkan di hadapannya kamar mandi cewek, lalu berkata, “Aku kasih kamu tantangan. Jika kamu berani memasuki kamar mandi cewek saat ini, aku akan bayarin bakso kamu!” Kata Gery.

Kemudian Angga dan Raffy berjalan mengarah kepada mereka.
 “Ok..Tapi jangan bohong ya!” Katanya
 “Iya..Cepat-cepat!” Kata Gery sambil mendorongnya
 “Mumpung gak ada orang!” Kata Gery lagi.
 Tanpa ragu-ragu ia memasuki ruangan. Langsung dikunci Gery dan Angga dari luar kamar mandi. Suara teriakan keras kemudian terdengar. Mereka hanya tertawa setertawa-tertawanya hingga membuat perut mereka sakit tak tertahankan.

“Kamu ngapain?” Kata Mira setelah teriak dan sadar bahwa itu Bryan. Bryan bingung tuk menjawab pertanyaan itu, ia hanya menunjuk pintu dibelakangnya dan tak bisa mengucapkan apapun. Hanya rasa malu yang dapat dirasakan.

Melihat Bryan seperti itu, Mira begitu marah dan berpikir negatif. Ia langsung memukul Bryan dengan tas sekolahnya berkali-kali. ”Kamu sudah gila ya?? Keluar!” Katanya. Mendengar itu Bryan langsung berbalik dan mendorong pintu sambil berkata, “Sory..sory” Dicobanya tuk mendobrak pintu\par

“Pintunya gak bisa dibuka!” Kata Bryan panik, sambil mencoba mendorongnya berkali-kali. Ia kemudian berteriak memanggil nama-nama ketiga temannya. Tampak wajahnya begitu marah. Mendengar itu, Mira langsung mendekati pintu dan mencoba tuk membuktikannya. Ia pun berteriak keras membuat kebisingan. Tetapi tak ada seorangpun yang mendengarnya.
 “Mati kita!” Katanya melanjutkan
 “Bagaimana ni!!” Katanya lagi
 Bryan hanya diam.
 “Siapa yang berbuat seperti ini? Pasti kamu sengaja ngelakuinnya!”
 Kata Mira menuduh
 “Kok aku? Ngak, ni semua gara-gara Gery. Pasti dia sengaja!” Katanya marah
 “Aduh gimana ni? Gak da yang dengar.” Kata Mira putus asa lalu
 mendudukkan dirinya di lantai. Setengah jam berlalu. Yang ada hanyalah suara mereka yang saling menyalahkan. Kemarahan demi kemarahan terbangun semakin parah. Mereka kualahan, merasa lelah dan hanya mengungkapkan perasaan mereka saat ini.

Sudah terlalu lama mereka berada di situ. Rasa kasihan Gery akhirnya menyudahi kerjaan mereka itu yang keterlaluan. Pintu kamar mandi terbuka lebar, membuat mereka berdiri dengan gembiranya. Lalu menyusul dengan nada tertawa yang membuat mereka kesal. Melihat suara itu, yang berasal dari Angga, Gery, dan Raffi. Mereka tak henti-hentinya tertawa menertawakan mereka berdua.

“Gak lucu Ger!” Kata Bryan yang marah lalu meninggalkan mereka tak ingin memulai pertengkaran. Begitu halnya dengan Mira. Wajah mereka tampak kecewa dengan perlakuan yang keterlaluan ini. ”Ini sudah kelewat batas” Kata Mira melewati mereka.

Kejadian itu membuat Bryan tak terlalu menaruh simpati akan mereka. Ia selalu mengindar dari dekatan mereka. Sepertinya ia masih belum menerima lelucon mereka yang keterlaluan semalam. ”Sudahlah Bryan, kami minta maaf atas kejadian semalam. Semalam kami hanya bercanda!” Kata Angga yang mengikuti dirinya di belakang
 “Iya kamu minta maaf!” Sambung Gery
 “Bercanda?” Sentaknya
 “Apanya bercanda!” Kata Bryan melanjutkan. Ia belum dapat memakluminya.
 “Jangan ganggu aku!” Katanya sambil melanjutkan langkah kakinya
 meninggalkan mereka.

***

“Ada apa ini?” Katanya. Seharian ini, ia terus memikirkan kejadian semalam. Ia kadang-kadang tersenyum sendiri. Kadang-kadang merasa bangga atau bahkan berganti dengan keinginan dalam. ”Apa yang kupikirkan?” Kata Bryan yang sadar bahwa ia memikirkan Mira selama pelajaran. Pikirannya melayang-layang tak memerhatikan sedikitpun penjelasan penting itu.

Ia keluar dari dalam kelas sambil tersenyum. Tak tahu apa yang merasukinya. Ia berjalan pulang ke arah pintu sekolah. ”Maafkan kami Bryan!” Kata mereka lagi mengejarnya. Ia berbalik dan tak menanggapi.
 “Bryan, kami minta maaf!” Kata Gery
 “Iya Bryan!”
 “Ok, aku akan maafin kalian jika kalian mau bayarin aku bakso!” Kata Bryan. Kata-kata yang tak disangka mereka. Merubah raut wajah mereka dengan senyuman. Langsung mereka merangkul satu sama lain berjalan ke arah tempat mereka biasa kumpul, di depan sekolah. ”Akhirnya kamu mau maafin kami!” Kata Angga ”Pasti donk, kalian sudah aku anggap saudara sepertinya aku gak bisa marah terlalu lama dengan kalian!” Kata Bryan, yang tak menyatakan jawaban lainya yang sangat memengaruhi keputusan tuk memaafkan mereka.

Esoknya, ia berjalan kearah perpustakaan bersama dengan anggota geng-nya. Dengan sikap seperti biasa layaknya bos besar. Mereka akan mencari bahan tuk presentasi minggu depan. Sesampainya disana, Bryan dibiarkan mencari buku sendiri. Sedangkan yang lainnya menunggu di tempat duduk tuk membaca yang tak jauh dari topik bahan mereka. Ia berjalan perlahan-lahan. Mencari bahan yang cocok dan tak ingin kalah dengan kelompok lain.

Satu demi satu rak ia jalani. Mencari dengan sangat teliti hingga tak memerhatikan lagi orang-orang disekelilingnya. Matanya tertuju dengan sebuah buku berwarna hijau tebal. Tapi tak cukup besar. Hanya seukuran buku biasa, hanya tebalnya melebihi biasa. Lalu diambilnya tuk mengetahui isinya. Ia langsung terkejut melihat tangan seseorang terpegangnya dengan tidak sengaja. Begitu tepat. Tanpa ingin mengetahui siapa dia, ia terlebih dahulu menarik tangannya.

“Mira!” Kata Bryan melihat orang yang membuatnya trauma tuk berdekatan.
 “Sory” kata Mira lembut.
 “Lembutnya!” Katanya secara tiba-tiba, tetapi pelan
 “Apa?”
 “Ngak!” Kata Bryan. Wajahnya memerah tak dapat menangapi. Jantungnya
 berdebar kencang. Ia tak dapat mengendalikannya lagi. Ia takut jika Mira mengetahui itu. Tanpa berkata apapun ia kembali kepada Gery dan teman-teman lain. Ia mendudukan diri bersama dengan mereka, seperti habis di kejar setan.
 “Kamu kenapa?” Kata Raffi
 “Ngak papa!” Langsung dipegangnya tangan mereka, menariknya keluar perpustakaan.
 “Besok aja kita lanjutkan. Bahannya gak ada!” Kata Bryan memberi alasan. Lalu meninggalkan mereka dan pergi ke dalam kelas. Mereka
 tampak binggung menghadapinya.

“Ada apa denganku? Kenapa aku begitu gugup di dekatnya? ” Kata Bryan di dalam kamar. Ia tak yakin dengan kejadian tadi siang. Baru kali ini ia merasa yang namanya gugup setengah mati di dekat cewek. ”Apa yang ada di kepalaku? Gak mungkin aku suka padanya, gak mungkin!” Katanya memberontak terhadap perasaan yang masih di identifikasi. Ia membuka matanya dan berkata, “Aduh..Kenapa aku masih kepikiran?”
 Sambil menutup kedua telinganya dengan bantal.
 “Kenapa harus kepikiran dia?”
 Di sekolah, mereka berempat berjalan di lapangan sekolah. Tanpa sengaja, Mira lewat berhadapan dengan mereka. Dengan ramahnya Raffi mencoba menyapanya,

“Hai!”
 Dengan mata tajamnya ia melotot ke arah mereka semua memperlihatkan kebencian.
 “Kok gitu?” Kata Gery menggoda dengan nada mengejek.
 “Diam loh!” Balas Mira lalu tak menghiraukan mereka lagi
 “Galak amat!” Tak ada sambutan lagi terdengar oleh Mira. Gery melihat raut wajah Bryan. Ia tercengang dan berpikir sejenak.
 “Kamu kok diam aja?” Kata Gery. Mendengar itu, Raffi dan Angga berbalik memerhatikan Bryan kembali.
 “Iya” Kata Raffi. Ia tampak menyadarinya, “Kamu biasanya yang paling heboh kalau soal ejek mengejek!” Kata Angga sambil merangkul bahunya,
 “Mungkin kamu suka ya sama dia?” Tebaknya asal-asalan. Mendengar itu
 raut wajahnya berubah. Tetapi mereka tertawa keras mendengar canda
 Angga. Mereka tak menganggap itu serius.

“Mana mungkin, si Playboy cap Kampak ni suka sama Gajah besar kayak gitu!” Ucap Gery hingga menyambung tawa mereka semua.
 “Kalian ada-ada saja!” Kata Bryan mencoba tak khawatir. Dan mengajak mereka ke dalam kelas, mengalihkan khayalan tinggi mereka.
 Sepulang sekolah. Wajahnya tampak bahagia, tetapi terkadang seperti orang sekarat karena suatu penyakit. Ia berjalan ke dalam kamar merebahkan dirinya yang lelah.

“Aku memikirkannya lagi!” Kata Bryan. Ia seperti menjilat ludahnya sendiri. Terpikir ia akan buku yang ia baca empat hari lalu. Di
 carinya buku itu di ruang tamu. ”Buku ini seperti benda keramat!” Kata Bryan mencarinya dengan cemas.

“Bi..Bibi..” Teriak memanggil bibi ”Bi buku kemarin tu mana?” Kata Bryan setelah bibi berlari memenuhi
 panggilannya. ”Di gudang den!” Jawabnya. Segera Ia berlari, bergegas tuk mencarinya di dalam gudang. Diambilnya kunci gudang itu. Memasuki ruangan perlahan-lahan.

“Mana buku itu?” Katanya ”Itu dia..” Terlihatnya cukup jauh, dengan debu yang banyak dan tampak kusut. Beberapa bagian terlihat gigitan tikus yang berkeliaran. Diambilnya, mencoba tuk membersihkan dengan perlahan, takut merusaknya.

Ia kembali ke ruang tamu. Ia duduk di sofa, saat seperti pertama kali ia menemukan dan membacanya.
 ‘Sejak kapan Anda mencintai? Apa prinsip Anda mencintai? Apakah memang benar Anda mencintainya?’ Bacanya ulang dengan huruf besar dan tebal. Kalimat pertama membuatnya binggung meski telah kedua kali membacanya.

‘Tak ada yang dapat menghakimimu. Sering membuat janji?
 Janji, hutang. Pengorbananmu itu adalah utang, harus di bayar.
 Kertas perjanjiannya yang di meteraikan adalah ucapan mulutmu.
 Katakan perkataan buruk dan itu akan terjadi padamu.
 Doakan yang baik membuat momen itu kan tercipta.

‘ Bacanya lagi semakin binggung
 “Ini seperti majalah mistis” Katanya

‘Nothing is imposible,
 ketika Anda melakukan dan mempermainkan perasaan orang lain,
 jangan heran Anda akan merasakannya. Nikmati saat-saat bahagia itu.

‘ Kata terakhir yang ia baca. Terlihatnya tulisan kecil, seperti catatan kaki di sudut bawah artikel.
 ‘Jaga bicaramu setelah membaca artikel ini’ Baca jamil, ia terdiam tak berkata. Ia berpikir keras dan merasa ini tanpa logika, menuntutnya menggunakan perasaannya.

Ia mencoba menyelami dan mengingat setiap perbuatannya. Tapi, tetap saja kata yang ia keluarkan hanya, ” Ini gak mungkin!!” sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.
 “Aku termakan omonganku sendiri!” Katanya Sadar


80% cerita ini nyata masbro/mba bro...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar