Jumat, 21 Desember 2012

Buku kutukan




                                                     Oleh : Alan Alamsyah

“Nothing is impossible” Baca Bryan di sebuah majalah yang tergeletak di meja ruang tamu rumah. Judulnya begitu memikat. Ia mengambilnya. Begitu penasaran dan sangat tertarik tuk di teliti. Ia membaca artikel itu di sofa yang tak jauh dari tempat ia berdiri tadi. ”Artikel apa ini!” katanya sombong setelah selesai membaca, berteriak sendiri di ruangan itu sambil mencampakkannya di atas meja. Lalu pergi meninggalkan sofa menuju kamar.

‘Si playboy cap kampak’, begitu gelar yang diberi mantan pacarnya pada Bryan. Dengan mata sayunya ia berjalan. Menebarkan pesona kejantanannya kepada setiap wanita yang berada disekitarnya. Tak ada rasa canggung ia berjalan bak pangeran kerajaan istana. Setiap mata cewek berada di titik fokus yang sama. Mereka menatapinya tanpa berkedip. Sungguh mengherankan. Bryan tampak begitu percaya diri dan tampak yakin bahwa dirinya pria paling tampan di sekolah. Tak dapat diragukan lagi kenyataannya. Sifatnya yang pendiam dan tampak begitu misterius, membuat segala lawan jenisnya ingin mengetahui sifat-sifat yang tampak terselubung itu. Membuat mereka seperti mati rasa dan begitu terpesona.

Apa lagi yang kurang? Ia pandai basket, pesonanya tak dapat ditandingi. Melihat ekspresinya saja membuat kata kagum keluar dari setiap orang tanpa terkecuali. Belum lagi prestasi akademisnya yang melebihi rata-rata. Anak yang cerdas dan menyukai tantangan. Hanya keras kepalanya lah yang menjadi sifat buruk, meski tak diketahui oleh pengemar di sekolahnya. Ia juga terkenal dengan permainannya yang jitu terhadap cewek-cewek disekolahnya. Banyak wanita yang tersakiti oleh ulah tebar-tebar pesonannya dan perasaan diperhatikan tetapi tanpa emosi yang dalam.

“Bryan..Kamu tega banget!! Mulai saat ini kita putus.” Kata pacarnya dengan nada marah. Ia sama sekali tak menangapinya. Ia hanya melanjutkan kegiatan bodohnya dengan merayu gadis lain di tempat biasa mereka ngumpul di dekat sekolah bersama teman laki-lakinya. Ia tersenyum licik menanggapi itu semua.

***

“OMG!” Kata Mira yang tak sengaja menabrak Bryan yang sedang menuju ke dalam kelas.
 “Kamu ni apa-apaan sih?? Pake mata donk!” Katanya dengan nada tinggi sambil melotot tajam
 “Mata..mata, loh tu yang gak pake mata. Loh gak lihat gue lagi jalan!” Balas Mira lagi menandingi teriakan Bryan
 “Dasar GENDUT!!!” Katanya kepada Mira lalu meninggalkannya dengan cepat. Mendengar hinaan itu, dengan kasarnya ia berkata, “Mulut tolong diajar !” Mira berbalik meneriakkannya melihat Bryan meninggalkannya. Mira tampak kesal mendengar dirinya direndahkan dan terus menerus mengingat kejadian itu selama pelajaran berlangsung.

Di saat jam istirahat, Bryan menceritakan kejadian itu kepada tiga sahabat sejatinya.
 “Apa, Mira si gendut?” Respon dari mereka serentak. Terasa sangat lucu.
 “Mira yang kelas IPA-3?” Kata Gery menandaskan.
 “Iya!!” Kata Bryan marah, merasa lelah menjelaskan berulang-ulang.
 Mendengar keyakinan itu, membuat mereka terbahak-bahak menertawakannya. Bryan hanya diam, menganggapnya hal sepele.
 “Gimana kalau kita taruhan, siapa yang bisa menjadikannya pacar, dia pemenangnya.” Kata Gery memberikan ide buruk
 “Kamu da gila? Gak..” Kata Raffy tak setuju
 “Itu susah loh Gery, itu masalah hati!” Kata Angga memberi pertimbangan
 “Ya, bukan untuk kita. Untuk Bryan donk!” Kata Gery
 “Enak aja! Gak..Aku gak mau!”
 “Katanya semua cewek bisa loh dapatkan?” Kata Gery
 “Cewek cantik..Bukan cewek gendut kayak dia! Da gendut, jelek lagi!” Kata Bryan sepele
 “Da, lupakan ide gila lo itu!” Katanya melanjutkan.

Seorang gadis, yang adalah kekasihnya yang baru, dari kelas sebelah
 menghampiri Bryan dan mengajaknya ke perpustakaan. Meninggalkan mereka bertiga di kantin.
 “Kalau you Bro?” Kata Gery menunjuk Raffy
 “Gak aku gak mau!” Tanggapnya
 “Aku juga!” Sambut Angga lagi
 “Loe aja!” Kata Raffy

Angga terpikir sesuatu. Lalu membisikannya kepada mereka berdua. Rencana aneh yang telah mereka pikirkan matang-matang. Dan bersepakat tuk menjalankannya esok hari. Di saat pulang sekolah, mereka serentak tuk mengerjai Bryan bersamaan dengan Mira. Tak mengerti mengapa saat itu begitu tepat. Gery memerhatikan Mira yang menuju kamar mandi cewek. Tanpa diketahui oleh Bryan, Gery memberinya tantangan. Ia menariknya dari kantin sekolah dan memerlihatkan di hadapannya kamar mandi cewek, lalu berkata, “Aku kasih kamu tantangan. Jika kamu berani memasuki kamar mandi cewek saat ini, aku akan bayarin bakso kamu!” Kata Gery.

Kemudian Angga dan Raffy berjalan mengarah kepada mereka.
 “Ok..Tapi jangan bohong ya!” Katanya
 “Iya..Cepat-cepat!” Kata Gery sambil mendorongnya
 “Mumpung gak ada orang!” Kata Gery lagi.
 Tanpa ragu-ragu ia memasuki ruangan. Langsung dikunci Gery dan Angga dari luar kamar mandi. Suara teriakan keras kemudian terdengar. Mereka hanya tertawa setertawa-tertawanya hingga membuat perut mereka sakit tak tertahankan.

“Kamu ngapain?” Kata Mira setelah teriak dan sadar bahwa itu Bryan. Bryan bingung tuk menjawab pertanyaan itu, ia hanya menunjuk pintu dibelakangnya dan tak bisa mengucapkan apapun. Hanya rasa malu yang dapat dirasakan.

Melihat Bryan seperti itu, Mira begitu marah dan berpikir negatif. Ia langsung memukul Bryan dengan tas sekolahnya berkali-kali. ”Kamu sudah gila ya?? Keluar!” Katanya. Mendengar itu Bryan langsung berbalik dan mendorong pintu sambil berkata, “Sory..sory” Dicobanya tuk mendobrak pintu\par

“Pintunya gak bisa dibuka!” Kata Bryan panik, sambil mencoba mendorongnya berkali-kali. Ia kemudian berteriak memanggil nama-nama ketiga temannya. Tampak wajahnya begitu marah. Mendengar itu, Mira langsung mendekati pintu dan mencoba tuk membuktikannya. Ia pun berteriak keras membuat kebisingan. Tetapi tak ada seorangpun yang mendengarnya.
 “Mati kita!” Katanya melanjutkan
 “Bagaimana ni!!” Katanya lagi
 Bryan hanya diam.
 “Siapa yang berbuat seperti ini? Pasti kamu sengaja ngelakuinnya!”
 Kata Mira menuduh
 “Kok aku? Ngak, ni semua gara-gara Gery. Pasti dia sengaja!” Katanya marah
 “Aduh gimana ni? Gak da yang dengar.” Kata Mira putus asa lalu
 mendudukkan dirinya di lantai. Setengah jam berlalu. Yang ada hanyalah suara mereka yang saling menyalahkan. Kemarahan demi kemarahan terbangun semakin parah. Mereka kualahan, merasa lelah dan hanya mengungkapkan perasaan mereka saat ini.

Sudah terlalu lama mereka berada di situ. Rasa kasihan Gery akhirnya menyudahi kerjaan mereka itu yang keterlaluan. Pintu kamar mandi terbuka lebar, membuat mereka berdiri dengan gembiranya. Lalu menyusul dengan nada tertawa yang membuat mereka kesal. Melihat suara itu, yang berasal dari Angga, Gery, dan Raffi. Mereka tak henti-hentinya tertawa menertawakan mereka berdua.

“Gak lucu Ger!” Kata Bryan yang marah lalu meninggalkan mereka tak ingin memulai pertengkaran. Begitu halnya dengan Mira. Wajah mereka tampak kecewa dengan perlakuan yang keterlaluan ini. ”Ini sudah kelewat batas” Kata Mira melewati mereka.

Kejadian itu membuat Bryan tak terlalu menaruh simpati akan mereka. Ia selalu mengindar dari dekatan mereka. Sepertinya ia masih belum menerima lelucon mereka yang keterlaluan semalam. ”Sudahlah Bryan, kami minta maaf atas kejadian semalam. Semalam kami hanya bercanda!” Kata Angga yang mengikuti dirinya di belakang
 “Iya kamu minta maaf!” Sambung Gery
 “Bercanda?” Sentaknya
 “Apanya bercanda!” Kata Bryan melanjutkan. Ia belum dapat memakluminya.
 “Jangan ganggu aku!” Katanya sambil melanjutkan langkah kakinya
 meninggalkan mereka.

***

“Ada apa ini?” Katanya. Seharian ini, ia terus memikirkan kejadian semalam. Ia kadang-kadang tersenyum sendiri. Kadang-kadang merasa bangga atau bahkan berganti dengan keinginan dalam. ”Apa yang kupikirkan?” Kata Bryan yang sadar bahwa ia memikirkan Mira selama pelajaran. Pikirannya melayang-layang tak memerhatikan sedikitpun penjelasan penting itu.

Ia keluar dari dalam kelas sambil tersenyum. Tak tahu apa yang merasukinya. Ia berjalan pulang ke arah pintu sekolah. ”Maafkan kami Bryan!” Kata mereka lagi mengejarnya. Ia berbalik dan tak menanggapi.
 “Bryan, kami minta maaf!” Kata Gery
 “Iya Bryan!”
 “Ok, aku akan maafin kalian jika kalian mau bayarin aku bakso!” Kata Bryan. Kata-kata yang tak disangka mereka. Merubah raut wajah mereka dengan senyuman. Langsung mereka merangkul satu sama lain berjalan ke arah tempat mereka biasa kumpul, di depan sekolah. ”Akhirnya kamu mau maafin kami!” Kata Angga ”Pasti donk, kalian sudah aku anggap saudara sepertinya aku gak bisa marah terlalu lama dengan kalian!” Kata Bryan, yang tak menyatakan jawaban lainya yang sangat memengaruhi keputusan tuk memaafkan mereka.

Esoknya, ia berjalan kearah perpustakaan bersama dengan anggota geng-nya. Dengan sikap seperti biasa layaknya bos besar. Mereka akan mencari bahan tuk presentasi minggu depan. Sesampainya disana, Bryan dibiarkan mencari buku sendiri. Sedangkan yang lainnya menunggu di tempat duduk tuk membaca yang tak jauh dari topik bahan mereka. Ia berjalan perlahan-lahan. Mencari bahan yang cocok dan tak ingin kalah dengan kelompok lain.

Satu demi satu rak ia jalani. Mencari dengan sangat teliti hingga tak memerhatikan lagi orang-orang disekelilingnya. Matanya tertuju dengan sebuah buku berwarna hijau tebal. Tapi tak cukup besar. Hanya seukuran buku biasa, hanya tebalnya melebihi biasa. Lalu diambilnya tuk mengetahui isinya. Ia langsung terkejut melihat tangan seseorang terpegangnya dengan tidak sengaja. Begitu tepat. Tanpa ingin mengetahui siapa dia, ia terlebih dahulu menarik tangannya.

“Mira!” Kata Bryan melihat orang yang membuatnya trauma tuk berdekatan.
 “Sory” kata Mira lembut.
 “Lembutnya!” Katanya secara tiba-tiba, tetapi pelan
 “Apa?”
 “Ngak!” Kata Bryan. Wajahnya memerah tak dapat menangapi. Jantungnya
 berdebar kencang. Ia tak dapat mengendalikannya lagi. Ia takut jika Mira mengetahui itu. Tanpa berkata apapun ia kembali kepada Gery dan teman-teman lain. Ia mendudukan diri bersama dengan mereka, seperti habis di kejar setan.
 “Kamu kenapa?” Kata Raffi
 “Ngak papa!” Langsung dipegangnya tangan mereka, menariknya keluar perpustakaan.
 “Besok aja kita lanjutkan. Bahannya gak ada!” Kata Bryan memberi alasan. Lalu meninggalkan mereka dan pergi ke dalam kelas. Mereka
 tampak binggung menghadapinya.

“Ada apa denganku? Kenapa aku begitu gugup di dekatnya? ” Kata Bryan di dalam kamar. Ia tak yakin dengan kejadian tadi siang. Baru kali ini ia merasa yang namanya gugup setengah mati di dekat cewek. ”Apa yang ada di kepalaku? Gak mungkin aku suka padanya, gak mungkin!” Katanya memberontak terhadap perasaan yang masih di identifikasi. Ia membuka matanya dan berkata, “Aduh..Kenapa aku masih kepikiran?”
 Sambil menutup kedua telinganya dengan bantal.
 “Kenapa harus kepikiran dia?”
 Di sekolah, mereka berempat berjalan di lapangan sekolah. Tanpa sengaja, Mira lewat berhadapan dengan mereka. Dengan ramahnya Raffi mencoba menyapanya,

“Hai!”
 Dengan mata tajamnya ia melotot ke arah mereka semua memperlihatkan kebencian.
 “Kok gitu?” Kata Gery menggoda dengan nada mengejek.
 “Diam loh!” Balas Mira lalu tak menghiraukan mereka lagi
 “Galak amat!” Tak ada sambutan lagi terdengar oleh Mira. Gery melihat raut wajah Bryan. Ia tercengang dan berpikir sejenak.
 “Kamu kok diam aja?” Kata Gery. Mendengar itu, Raffi dan Angga berbalik memerhatikan Bryan kembali.
 “Iya” Kata Raffi. Ia tampak menyadarinya, “Kamu biasanya yang paling heboh kalau soal ejek mengejek!” Kata Angga sambil merangkul bahunya,
 “Mungkin kamu suka ya sama dia?” Tebaknya asal-asalan. Mendengar itu
 raut wajahnya berubah. Tetapi mereka tertawa keras mendengar canda
 Angga. Mereka tak menganggap itu serius.

“Mana mungkin, si Playboy cap Kampak ni suka sama Gajah besar kayak gitu!” Ucap Gery hingga menyambung tawa mereka semua.
 “Kalian ada-ada saja!” Kata Bryan mencoba tak khawatir. Dan mengajak mereka ke dalam kelas, mengalihkan khayalan tinggi mereka.
 Sepulang sekolah. Wajahnya tampak bahagia, tetapi terkadang seperti orang sekarat karena suatu penyakit. Ia berjalan ke dalam kamar merebahkan dirinya yang lelah.

“Aku memikirkannya lagi!” Kata Bryan. Ia seperti menjilat ludahnya sendiri. Terpikir ia akan buku yang ia baca empat hari lalu. Di
 carinya buku itu di ruang tamu. ”Buku ini seperti benda keramat!” Kata Bryan mencarinya dengan cemas.

“Bi..Bibi..” Teriak memanggil bibi ”Bi buku kemarin tu mana?” Kata Bryan setelah bibi berlari memenuhi
 panggilannya. ”Di gudang den!” Jawabnya. Segera Ia berlari, bergegas tuk mencarinya di dalam gudang. Diambilnya kunci gudang itu. Memasuki ruangan perlahan-lahan.

“Mana buku itu?” Katanya ”Itu dia..” Terlihatnya cukup jauh, dengan debu yang banyak dan tampak kusut. Beberapa bagian terlihat gigitan tikus yang berkeliaran. Diambilnya, mencoba tuk membersihkan dengan perlahan, takut merusaknya.

Ia kembali ke ruang tamu. Ia duduk di sofa, saat seperti pertama kali ia menemukan dan membacanya.
 ‘Sejak kapan Anda mencintai? Apa prinsip Anda mencintai? Apakah memang benar Anda mencintainya?’ Bacanya ulang dengan huruf besar dan tebal. Kalimat pertama membuatnya binggung meski telah kedua kali membacanya.

‘Tak ada yang dapat menghakimimu. Sering membuat janji?
 Janji, hutang. Pengorbananmu itu adalah utang, harus di bayar.
 Kertas perjanjiannya yang di meteraikan adalah ucapan mulutmu.
 Katakan perkataan buruk dan itu akan terjadi padamu.
 Doakan yang baik membuat momen itu kan tercipta.

‘ Bacanya lagi semakin binggung
 “Ini seperti majalah mistis” Katanya

‘Nothing is imposible,
 ketika Anda melakukan dan mempermainkan perasaan orang lain,
 jangan heran Anda akan merasakannya. Nikmati saat-saat bahagia itu.

‘ Kata terakhir yang ia baca. Terlihatnya tulisan kecil, seperti catatan kaki di sudut bawah artikel.
 ‘Jaga bicaramu setelah membaca artikel ini’ Baca jamil, ia terdiam tak berkata. Ia berpikir keras dan merasa ini tanpa logika, menuntutnya menggunakan perasaannya.

Ia mencoba menyelami dan mengingat setiap perbuatannya. Tapi, tetap saja kata yang ia keluarkan hanya, ” Ini gak mungkin!!” sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.
 “Aku termakan omonganku sendiri!” Katanya Sadar


80% cerita ini nyata masbro/mba bro...

Sabtu, 15 Desember 2012

Sahabat, Datang dan Hilang




I wanted you so bad
I’m so through with it,

Cause honestly you turned out to be the best thing I never had...


Pantai, senja, sendiri dan hanya ditemani lagu The Best Thing I Never Had seperti sekarang.  Moment yang tidak bisa terlewatkan tanpa teringat semuannya, teringat kamu..
Semua yang pernah terjadi bersamamu seolah-olah berputar kembali di depanku. 
Masih ingat betapa manisnya kamu memperlakukan aku, cerewetnya kamu mengingatkan aku agar makan tepat waktu dan  kesalnya aku kalau kamu tiba-tiba muncul dan memaksaku menemanimu. Aku masih ingat, semuanya tentang kamu.



“Nindya, menurutmu gimana? Kamu ngerasa keganggu nggak?”

“Keganggu gimana?”



“Yaa itu.. Aku yakin kamu juga pasti tau kalo tementemen banyak yang ngomongin hubungan kita. Kamu kayak 

nggak tau orang-orang aja, nyinyir banget kalo ngomongin orang lain. Kamu ngrasanya gimana sama aku?””



“Hubungan yang mana? Kita temenan doang, kenapa mereka jadi heboh begitu? Gimana gimana sih, Za? Nggak ngerti deh aku..”



“Gini deh, perasaan kamu ke aku kayak gimana? Bukannya aku mau gimana gimana yaa, Nin.  Tapi yaa kamu tau sendiri lah, kalo orang deket mesti ntar lama kelamaan ada rasa juga kan?”



“Hahaha apasih kamu Za? Oke deh, aku suka punya temen yang nggak kebanyakan basa-basi kayak kamu gini.  Aku pengennya temenan aja sama kamu, nggak lebih. And you?



“Nahh aku juga nyaman banget temenan sama kamu, Nin.  Nggak banyak basa-basi dan menye-menye kayak cewek yang lainnya yang malesin itu. So, kita pure temenan kan??”



“Iyaa.. kita temenan,”

That’s it ! we’re friends, titik. Aku sama Reza, nggak ada hubungan lebih. Reza sebenarnya adalah teman kakakku,  aku baru aja mengenal dia ketika kami bertemu dan sama” nonton bareng beberapa bulan yang lalu.  Semenjak itu kami semakin dekat.  Dan selama itu aku merasa dia selalu ada di saat apapun.  Dia selalu bisa mencari cara untuk selalu dekat denganku



Kata orangorang, Reza deket sama banyak cewek. Dan mereka memperingatkan aku

Seolaholah takut aku bakal sakit hati sama dia. Easy guys,
 aku nggak peduli  dia mau deket sama siapa aja.Yang penting dia selalu ada buat aku, titik.
Aku nggak butuh punya pacar yang pada akhirnya seolah-olah punya wewenang untuk mengatur hidupku.



Terkadang Reza cerita tentang beberapa cewek yang lagi deket sama dia. Biasa aja tuh rasanya, toh dia

 nggak pernah absen sms aku, nggak pernah ‘hilang’ dari aku. Aku juga sering cerita kepada Reza tentang  beberapa cowok yang lagi deket sama aku. Juga tentang kakak angatan yang baru baru ini memberi perhatian  lebih kepadaku.



From : 085828xxxxxx

Asik looohh jam segini bangun tidur.. Hahaha



To : 085654xxxxxx

Terus ajaaaa ngejeknyaaaa :B kebo ah kamu, tidur mulu..



From : 085828xxxx

Biarin hahaha udah pulang belom? Makan dulu sana



To : 08565654xxxx

Dr tadi kan aku di rumah. Nggak enak badan.. Ntar ah, males hehe



From : 085828xxxx

Sakit apa? Makan dulu lah.. Atau aku jemput yaa, kita cari yg anget2 yaa biar cepet sembuh.  Km tu kalo nggak dipaksa suka males makan begitu



To : 085654xxxxxx

Masih flu sama demam dikit doang. Serah kamu deh..



From : 085828xxxx

Yaudah, aku jemput yaa.. Tunggu bentar, jangan lupa pake jaket, di luar dingin



Beberapa menit kemudian Reza udah sampai di depan rumah.  Aku keluar rumah, dan kami pergi ke tempat makan favorit kami.  Ralat, dia lebih tepatnya. Setelah berceramah tentang pola makanku yang nggak teratur dan sebagainya,  pesanan kami, 2 porsi Sop Ayam, susu coklat panas untukku dan segelas teh hangat datang.   Tidak butuh waktu lama, isi mangkuk Reza sudah kosong.  Dia diam, tangan dilipat diatas meja dan memperhatikan aku menghabiskan makananku.



“Apaan sih kamu? Nggak suka dehh lagi makan dipelototin begitu ih..”



“Pantesan nggak bisa gendut. Tenagamu itu habis buat ngomong, Nin. Hahahah,”



“Oke deeehh aku diem yaa,”



“Eeeehh jangan lah.. aku kesepian kalo kamu diem hehe.  Udah belom? Yuk jangan lama-lama, kamu lagi sakit,”


“Sakit apaan? Sehat gini kooook,” jawabku ceria.



“Halaaaah udah deh. Yuk, abis ini kamu istirahat. Besok kalo udah sembuh, kita ke pantai deeeh,”



Selalu seperti itu. Dia selalu memberikan perhatiannya. Nggak pernah kurang dan nggak berlebihan.  Reza selalu ada, nggak pernah ninggalin aku walaupun sebentar saja. Dia juga selalu inget apapun yang aku pengen,  hal sekecil apapun itu. Entah dari mana dia tau hal remeh temeh yang aku tulis di twitter ataupun sekedar bercanda saja.  Dia yang paling tau aku suka dengan susu coklat, pantai dan lain-lain.

Siang itu, setelah menjemputku di kampus, Reza mengajakku ke pantai. Membayar janjinya dulu yang dia ucapkan sewaktu aku sakit. Setelah sampai di pantai, dia hanya duduk di pasir pinggir pantai dan memperhatikanku bermain-main dengan ombak.  Setelah agak capek, aku berjalan menjauhi air dan duduk di sebelah Reza.



“Nindya..” panggil Reza dengan nada memanggil seorang anak kecil.



“Hmm? Apaan?”



“Kita bisa temenan terus kan?”



“Apaan sih maksudnya? Yaa iyalah kita temenan terus..”



“Hehe yaudah, mastiin aja kalo kamu masih mau temenan sama aku.” Jawabnya santai sambil mengacak rambutku.



“Hmm kalo aku udah nggak mau temenan sama kamu lagi gimana? Kalo aku nggak mau bales smsmu lagi,  trus nggak mau jalan bareng sama kamu lagi?”



“Yaa nggak bisa gitu.. Pokoknya harus mau. Kalo nggak mau bales sms yaa aku telfon dong..  Gimanapun caranya kamu nggak boleh ngilang dari aku. Kalo perlu sampe manapun bakal aku ikutin terus, Nin.”



“Idihhh kok lama-lama serem banget sihh kamu, Za? Ckck nggak jadi psycho kan kamu?”



“Aku bisa loooh jadi psycho gara” kamu. Hahahaha”  jawabnya sambil tertawa.  Namun jawaban itu juga menjadi sebuah tanda tanya bagiku.  Katanya Cuma temenan? Kok Tanya” kayak gitu?

Dan kalo nggak ketemu sehariiii aja, pasti uda rewel.



“Berlebihan deh kamu, Za. Katanya Cuma temeeeeenn??”



“Masa sih? Ah enggak ah biasa aja. Yang penting kamu nggak keganggu sama aku kan? Aku kan juga nggak  pernah nglarangnglarang kamu macemmacem. Tapi yang jelaaaas, aku nggak bakal biarin kamu sedih dan kesepian,  Nindya.” Kata Reza dengan raut  wajah serius. Aku cuma bisa diem, speechless..



“Tau nggak sekarang aku lagi kecanduan apa, Nin?” tambahnya.



“Apaan?? Kamu nggak aneh-aneh lagi kan, Za?” jawabku dengan nada yang mulai meninggi.



“Sabar kenapa sihh? Yaa enggaklah sayaaaaangg.. Aku sekarang kecanduan kamu, dan ini nggak bahaya kok, Hahahaha.”



“Ahh sialan kamu nih. Apaan tuh manggilnya begitu begitu? Nggak suka deeeehh.”


Dia yang paling tau halhal apa saja yang bisa membuatku bahagia. Sendiri, senja dan pantai.  Namun ketika dia ada di dekatku, aku merasa dia masih membiarkanku sendiri,  berbuat apapun yang aku inginkan, namun dia tidak bersedia membiarkanku kesepian. Bahagia yang sempurna sore ini. Pantai, senja dan tentu saja teman terbaikku,  Reza.Setelah melihat cantiknya senja dan matahari terbenam di pantai itu, Reza mengajakku pulang.  Motor yang kami naiki melaju pelan memecah sepinya jalanan yang lengang petang itu.  Sepanjang perjalanan kami hanya diam. Seakan menikmati momen ini dengan cara masingmasing.  Menikmati rasa saling memiliki yang tulus, dengan landasan pesahabatan.  Entah kenapa, aku merasa bahwa Reza nggak akan selamanya ada buat aku. 


Akan ada suatu waktu ketika dia meninggalkanku, ataupun sebaliknya.  Tapi aku nggak berani memikirkan halhal itu.  Aku terlalu takut untuk membayangkan ketika aku tidak bisa lagi bersandar di bahunya seperti saat  ini.



Setelah sampai rumahku, Reza langsung pamit pulang. Sebenarnya nggak pulang juga sih.  Kebiasaan rutinnya tiap malem nggak pernah di rumah. Dia baru akan pulang sekitar jam 11 malam.  Nggak tau juga apa yangdia kerjain samatementemennya.  Yang jelas, aku bisa memastikan bahwa dia nggak masuk lagi ke dalam kehidupanya yang dulu.  Ini juga yang menjadi salah satu alasanku mengapa aku harus tau dia dimana dengan segala macam pertanyaan remeh itu.  Hanya untuk memastikan bahwa dia tidak melakukan hal-hal buruk seperti dulu, kecanduan minuman keras dan lain-lainnya.



Jam 22.30 aku mengirim SMS kepada Reza.



To : 08565654xxxx

Pulangnya jgn malem2 banget loh, km tadi seharian belom pulang



From : 085828xxxxxx

Siap laksanakan bu komandan sayaaaang :* Sana tidur..  Besok temenin aku futsal bisa kan, Nin? Trus kita makan eskriiiiim :D



To : 08565654xxxx

Apaan sihh?? -____-

 nggak ah, ntar aja tidurnya.. Hmm aseeeek!! iya deh. Emang km skrg lg dimana?



Sampai satu jam setelah itu Reza nggak bales SMS. Aku pikir ah udahlah, paling lowbatt atau lagi ngapain.  Aku pun kemudian beranjak tidur. Pagi harinya, aneh sekali tumben nggak ada SMS dari Reza sama sekali.  Biasanya kalau dia sudah sampai di rumah dan aku udah tidur, dia pasti mengirim SMS sekedar mengucapkan selamat malam atau apapun.  Kali ini tidak ada.Namun sampai sore harinya, Reza tidak memberi kabar.  Awalnya aku menganggap hal ini biasa aja, tapi aku juga mulai merasa kuatir dengan Reza.  Bukan hanya SMS yang tidak dibalas, handphonenya juga tidak aktif. Tidak  lama kemudian, handphoneku berdering. Aku memandang layar handphoneku, telfon dari Sheila, kakak  perempuan Reza. Tumben banget mbak Sheila telfon, biasanya kalo ada perlu paling cuma sms..


“Halo, kenapa mbak Sheil?”



“Hmm Nin, kamu sekarang dimana? Ikut aku bentar bisa? Aku jemput ke rumah sekarang yaa..” kata Sheila  dengan nada yang sedikit aneh.



“Iyaa aku di rumah kok, emangnya mau ngapain sih, mbak?”



“Nggak papa, ntar aja aku jelasin. Yaudah kamu siap-siap, aku kesitu..”

Tuuuuuttt..tuuuuut.... 


Telfon tibatiba diputus sebelum aku sempat menanyakan Reza. Ah yaa sudahlah, nanti pasti juga tau.  Kemudian aku berganti baju dan bersiap-siap. Tak berapa lama, Sheila sudah sampai di rumahku dan menyuruhku masuk ke mobil.  Dia menyetir dalam diam, sama sekali nggak ngomong apapun. Namun raut wajahnya terlihat aneh, cemas tapi masih mencoba tenang.  Ternyata dia membawaku ke Rumah sakit. 


“Kita ngapain kesini? Siapa yang sakit, mbak? Oh iya, Reza mana??” tanyaku memberondong Sheila.  Namun dia masih diam. Aku menjadi panik, tidak tau apa yang harus ku lakukan.

Kami sampai di salah satu kamar VIP di Rumah Sakit tersebut . Sheila mempersilahkan aku masuk dengan raut wajah yang aneh dan mata berkaca-kaca.  Ketika aku memasuki kamar tersebut, aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat.  Seorang laki-laki tergeletak tak berdaya di atas ranjang dengan berbagai luka dan alat-alat kedokteran menempel di tubuhnya. 


“Nggak.. aku pasti salah lihat. Ini pasti bukan Reza, bukan...” aku berkata sambil terisak.  Kemudian setelah itu aku tidak sadar dengan apa yang terjadi. Tiba-tiba semuanya menjadi gelap dan pandanganku kabur,  kemudian aku pingsan.


Ternyata semalam sewaktu Reza dalam perjalanan pulang, dia mengalami kecelakaan.  Dia masih sempat dilarikan ke rumah sakit sampai akhirnya tidak tertolong lagi.  Sheila menolong dan menenangkan aku yang lost control. Dia memelukku dan juga terisak.


Iya.. Reza pergi. Reza ninggalin aku sendiri.

“Kamu bohong, Za.. Kamu bilang kamu nggak bakalan ninggalin aku.  Mana es krim yang kamu janjiin tadi malem? Seharian ini aku nggak makan loh, kenapa kamu nggak marah-marah? Kapan kita ke pantai lagi? Kamu bohong, Za !!”


Dan disinilah aku sekarang. Menatap matahari terbenam dalam langit senja yang sangat indah.  Sendiri, di pantai ini, seperti yang dulu sering aku lakukan, bersama kamu.  Sekarang kamu pergi, kamu hal terbaik yang pernah aku temui.  Kamu yang selalu ada, namun nggak pernah aku miliki seutuhnyadisinilah aku sekarang. Menatap matahari terbenam dalam langit senja yang sangat indah.  Sendiri, di pantai ini, seperti yang dulu sering aku lakukan, bersama kamu.  Sekarang kamu pergi, kamu hal terbaik yang pernah aku temui.  Kamu yang selalu ada, namun nggak pernah aku miliki seutuhnya.  Kamu yang datang, dan juga mengembalikan kesendirianku lagi.


I know you want me back

It’s time to face tha facts

That I’m the one that’s got away

Lord knows that it would take another place, another time,

Another world, another life

Thank God I found the good in goodbye

(Beyonce – The Best Thing I Never Had)


Good Bye,,, <3 
sorry really, because the story is behind, what happens is the opposite...